Potensi Organik Perjalanan Kebudayaan Papua

Potensi Organik Perjalanan Kebudayaan Papua

     Dalam perkembangan sejarah, karakteristik dan citra dari masyarakat Papua selalu dekat dengan narasi tradisional kuno yang seakan menempatkan masyarakat Papua hidup dan perkembangan kemunduran. Padahal dalam perjalanan sejarah kebudayaannya, ada perubahan yang sangat besar dari usaha membawa masyarakat Papua untuk dapat hidup pada kehidupan yang modern. Jika membaca analisis Rosmaida Sinaga, dalam tulisannya Masa Kuasa Belanda di Papua, (Depok: Komunitas Bambu, 2013) disana dijelaskan tentang  perkembangan masyarakat Papua pada era kolonial Belanda yang mengalami pemaknaan tersendiri dimana kekuasaan pemerintah kolonial Belanda pada periode 1898 hingga 1962 telah memberi dampak yang penting bagi motivasi penegakan kekuasaan dan ekspansi kolonial Belanda di Nederlands Nieuw Guinea (NNG). Studi ini menemukan fakta sejarah jika pembagian wilayah (pemekaran wilayah) pemerintahan kolonial Belanda di NNG diawali dengan kegiatan penjajakan wilayah menetapkan pos pemerintahan dan batas wilayah.        Pembagian pemerintahan didasarkan pertimbangan geografis/akses transportasi, budaya, nilai ekonomis dan politis suatu wilayah yang akan dimekarkan. Dari sini ada peran strategis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda utamanya dalam membangun relasi sosial budaya yang sesuai dengan adat dan zona ekologis dari masyarakat Papua.

            Terjadi dimensi pertemuan awal masyarakat Papua dengan penjajah Belanda. Pada era penjajahan Belanda, para petinggi Belanda menggunakan teknologi dari negaranya sebagai alat menunjukkan kekuasaannya menjadi bagian penting dari realitas evolusi kebudayaan yang berjalan di tanah Papua. Berdasarkan perjanjian Den Haag, 16 Mei 1895 pulau Nieuwe Guinea dibagi menjadi dua bagian  yakni bagian barat menjadi milik Belanda dan bagian timur menjadi milik Jerman dan Inggris (Stibbe, 1919, 33-4). Wilayah yang dimiliki Belanda dinamakan Nederlands Nieuw Guinea (NNG). Sedangkan wilayah bagian timur dibagi dua yakni wilayah Wilhelmstad yang dikuasai Jerman dan wilayah Papua yang dikuasai oleh Inggris. (Mansoben, 2001: 7-10). Batas wilayah NNG adalah mulai dari sungai  Bensbach dipantai selatan Nieuw Guinea. Secara fisiografis, wilayah NNG berasal dari tiga jenis daerah yaitu daerah pegunungan tengah, daerah dataran pantai disebelah selatan, dan daerah kaki gunung di sebelah utara. Kajian ini jelas menunjukkan bagaimana peran vital ekologis sebagai wujud dasar pembentuk realitas kebudayaan di tanah Papua.

            Secara alami, perjalanan sejarah kebudayaan Papua sangat dipengaruhi oleh kondisional alamnya. Meskipun ada saja penilaian dalam wujud narasi kebudayaan yang masih menempatkan realitas kesejarahan Papua dalam bingkai primitive dan kuno. Fakta jika di tanah Papua dalam banyak babakan sejarah mengalami perubahan sosial merupakan keniscayaan yang harus diterima dalam perspektif evolusi kebudayaan secara global.

Gamba rPeta Papua dari Australian National University. (Sumber : The Australian National University, CartoGIS CAP 14-212)

SHARE