Keberlanjutan Ekosistem Budaya Ekonomi Masyarakat
Seperti yang sering disampaikan oleh Koentjaraningrat jika kebudayaan dibagi ke dalam beberapa unsur besar yang disebut unsur-unsur kebudayaan universal. Unsur-unsur tersebut terdapat di dalam setiap kebudayaan suku bangsa di dunia. Ketujuh unsur yang dapat disebut sebagai isi pokok tiap kebudayaan dunia yakni bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, kesenian (Koentjaraningrat, 1986:203-204).
Ketujuh unsur kebudayaan tersebut hasil kearifan lokal masyarakat. Kearifan lokal itu pun bergerak menjadi kekuatan budaya sekaligus menjadi tradisi dan melekat kuat dalam banyak sendi sendi kehidupan masyarakat. Ada nilai-nilai yang berakar kuat pada setiap aspek lokalitas. Masing– masing dari aktualisasi kearifan lokal yang terwujud dalam berbagai macam kebudayaan tersebut diketahui, dipahami, diyakini, dihayati dan diakui sebagai hal penting yang memperkuat hubungan sosial diantara anggota masyarakat.
Dari sini dapat dipahami adanya beberapa fungsi kearifan lokal, yaitu kearifan lokal sebagai penanda identitas komunitas, sebagai elemen perekat lintas warga, lintas agama, dan kepercayaan sehingga tidak menimbulkan sara, sebagai suatu tatanan yang bersifat tidak memaksa, sebagai penanda kebersamaan bagi komunitas, sebagai sesuatu yang mampu mengubah pola pikir individu dan kelompok, sebagai pendorong terbangunnya kebersamaan, apresiasi sekaligus sebagai mekanisme bersama untuk menepis kemungkinan yang mempengaruhi dan bahkan merusak kebersamaan komunal yang tumbuh atas kesadaran bersama.
Di tanah Papua para pengrajin noken adalah kaum perempuan dewasa sebagaimana tradisi dan budaya di Papua. Perempuan yang melakukan aktivitas menganyam/merajut sekaligus menjual. Dari beberapa hasil wawancara, ditemukan sejumlah gambaran fakta jika rata – rata perempuan di Papua mampu menganyam/merajut noken sambil menyusui anaknya, perempuan mampu menimang anaknya dalam sebuah noken sambil berjualan, perempuan mampu menganyam/merajut noken sambil menjaga barang dagangan (jualan), perempuan mampu menjual noken bersamaan dengan menjual hasil kebunnya.
