Strukturistik Pembangunan Papua Berbasis Budaya (Liputan Dana Indonesiana 2023)
Salahsatu peletakan dasar yang penting mengembangkan potensi sosial dan kekayaan alam di tanah Papua demi mendukung keselarasan kearifan lokal yang ada di Papua.Dalam orientasi inilah pembangunan lokal yang berjalan di Indonesia harus sejalan dengan nilai – nilai budaya lokal.
Pada tataran ini setiap program pembangunan di bidang manapun sangatlah perlu untuk memahami kondisi social budaya masyarakat local pemilik tanah adat, termasuk lingkungan alam serta sejumlah nilai kearifan local yang dimiliki masyarakat local. Hubungan-nya dengan itu, maka sangatlah perlu para perencana pembangunan di Tanah Papua harus memahami kondisi fisik wilayah dan karakteristik sosial budaya Orang Asli Papua.
Suku-suku bangsa yang disebut sebagai orang asli Papua yang mendiami Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) berjumlah ratusan suku bangsa. Kelompok mereka ini memiliki karakteristik sosial budaya yang berbeda satu sama lainnya, karena dipengaruhi oleh kondisi alam (zona ekologis) yang terdapat di Tanah Papua. Masyarakat lokal Papua ini sepenuhnya mendiami zona-zona ekologis yang ada sehingga krakteristik budayanya dipengaruhi pula dengan zona-zona ekologis itu. Sehubungan dengan itu, pembangunan fisik maupun social budaya orang asli Papua di tanah Papua seharusnya disesuai-kan dengan nilai budaya, hukum adat, norma dan aturan- aturan budaya orang Papua yang tinggal pada zona-zona ekologis yang ada agar rencana- rencana pembang-unan tersebut dapat didukung dengan potensi alam dan kondisi sosial – budaya masyarakat asli Papua.
Kajian ilmiah dari Boelaars (1983), Petocz (1987), dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh "Lavalin Internasional Incorporate “ di Papua (1987) dan Tukher (1988) menyebutkan jika evolusi kebudayaan di Papua sangat dipengaruhi oleh keberadaan zona ekologis ini. Seperti yang dijelaskan diawal, umumnya zona – zona Papua menjadi penentu penting dalam evolusi kebudayaan Papua. Seperti halnya zona rawa, pantai dan sepanjang aliran sungai, zona dataran tinggi, zona lembah kecil, zona dataran rendah dan pesisir.
Zona rawa, pantai dan sepanjang aliran sungai Papua umumnya dihuni oleh Suku Asmat, suku Jagai, suku Marind-Anim, suku Kamoro, suku sebyar, suku Simuri, suku Irarutu, suku Waropen dan suku Bauzi. Sementara pada zona dataran tinggi, suku – suku bangsa yang mendiami zona ekologis ini berasal dari suku Lani, Ngalum, suku Mee, suku Nduga, suku Amungme, suku Moni, suku Yali dan suku Hubula.
Untuk zona kaki gunung dan lembah kecil ada suku-suku bangsa yang mendiami zona ini adalah suku Sentani, Nimboran, Meybrat, suku Attam dan orang Muyu, Pada zona dataran rendah dan pesisir ada suku – suku bangsa yang mendiami zona ini adalah suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Sorong sampai Nabire, Biak dan Yapen. Kondisi alam ini mempengaruhi semua unsur-unsur budaya kelompok-kelompok etnis / suku bangsa yang mendiami 4 zona ini, seperti halnya sistem peralatan atau teknologi tradisional, sistem religi, organisasi sosial sistem pengetahuan, dan kesenian (arsiktertur tradisionan, musik, tari, seni ukir dan lukis). Sampai hari ini nilai – nilai ilmu pengetahuan budaya ini masih eksis dan tetap dilestarikan oleh banyak masyarakat Papua bahkan juga pada wilayah kota- kota besar yang ada di Papua seperti Jayapura, Sorong, Biak dan Monokwari.
Dalam nafas penalarannya, Papua dengan keanekaragaman budaya, kekayaan alam, dan kompleksitas sejarahnya, menawarkan tantangan unik dalam pembangunan. Terletak di bagian timur Indonesia, Papua dihuni oleh ratusan kelompok etnis yang berbeda, masing-masing dengan bahasa, adat istiadat, dan struktur sosial yang khas. Dalam konteks ini, pembangunan di Papua tidak dapat hanya dilihat dari perspektif ekonomi atau infrastruktur semata, melainkan harus mempertimbangkan dimensi budaya dan antropologi yang kuat dan hidup.
Tanah Papua dihuni oleh lebih dari 250 kelompok etnis, seperti suku Dani, Asmat, Amungme, Kamoro, dan banyak lainnya, yang memiliki tradisi dan budaya yang berbeda-beda. Tiap suku memiliki bahasa, cara hidup, sistem kepercayaan, dan struktur sosial yang unik. Misalnya, suku Dani di Lembah Baliem dikenal dengan tradisi perang sukunya dan cara mereka mengelola lahan pertanian berbasis ubi jalar. Sementara itu, suku Asmat terkenal dengan seni ukiran kayu dan struktur sosial yang kompleks yang terkait dengan ritual-ritual leluhur. Semua ini merupakan wujud penting dalam tumbuh kembangnya nilai – nilai kebudayaan lokal di Papua.
(Dokumentasi Foto : Gedung Majelis Rakyat Papua (MRP) (Sumber : Dokumentasi Forum Budaya Muda Papua,2024)
