Eksistensi Pengrajin Noken Representasi Entitas Kultural Papua

Eksistensi Pengrajin Noken Representasi Entitas Kultural Papua

            Dari hasil wawancara Tim Riset Forum Budaya Muda Papua dengan Pengrajin Noken di Jayapura Bernama Ancela Giyai yang lahir di Abega 21 April 1987 bertempat tinggal di Jayapura jalan Nirwana,Angkasa Pura Jayapura Utara, memang ada banyak pengrajin Papua yang menyelaraskan berbagai motif pembuatan Noken Papua berdasarkan asal usul dari kampung pengrajin. Rata – rata dari pengrajin Noken membawa motif ataupun karakteristik yang menonjol dilingkungannya seperti motif – motif  bunga anggrek, tulip ataupun motif sederhana yang merepresentasi dari keragaman budaya mereka. Ia menyebut jika tak sedikit dari pelanggan Noken Papua yang tertarik untuk memesan motif tertentu seperti halnya yang umum dijumpai di wilayah pesisir Papua.

            Mengulas pandangan Pengrajin Noken Bernama Ancela Giyai, tentu dapat kita pahami jika eksistensi Papua terhadap berbagai macam karakteristik budaya lokal Papua merupakan representasi dari keragaman karakter budaya pesisir dan pedalaman Papua yang memang sangat kental dengan watak budayanya. Penduduk yang mendiami kawasan pesisir cenderung lebih bersifat terbuka karena lebih banyak berhubungan dengan dunia luar. Banyaknya pendatang dari berbegai etnis dan agama mempengaruhi daerah ini. Berbeda halnya dengan masyarat pedalaman yang mendiami dataran rendah dan lereng pegunungan di Sorong Manokwari, adat istiadat di wilayah ini. Seperti pandangan banyak ahli tentang pembangian zona ekologis di tanah Papua berdasarkan ketinggian maupun sistem pertanian di tanah Papua. Seperti halnya kajian dari Boelaars (1983), Petocz (1987) ada banyak ruang interaksi warga Papua yang dibangun dalam kacamata entitas ekologis asal usul lingkungan. Seperti halnya zona rawa dan sepanjang aliran sungai suku-suku bangsa yang mendiami zona ekologis ini adalah suku Asmat, suku Jagai, suku Marind-Anim, suku Kamoro, suku sebyar, suku Simuri, suku Irarutu, suku Waropen dan suku Bauzi.

            Adapula kawasan zona dataran tinggi suku-suku bangsa yang mendiami zona ekologis ini adalah suku Lani, Ngalum, suku Mee, suku Nduga, suku Amungme, suku Moni, suku Yali dan suku Hubula. Zona kaki gunung dan lembah lembah kecil yang mana dalam suku ini terdapat suku Sentani, Nimboran, Meybrat, suku Attam dan orang Muyu. Zona dataran rendah dan pesisir, suku bangsa yang mendiami zona ini adalah suku Sorong sampai Nabire, Biak dan Yapen. Kondisi alam tersebut mempengaruhi semua unsur-unsur budaya kelompok-kelompok etnis / suku bangsa yang mendiami 4 zona ini, seperti sistem peralatan atau teknologi tradisional, sistem religi, organisasi sosial sistem pengetahuan, dan kesenian (arsitektur tradisional, tari, seni ukir dan lukis). Struktur ini setidaknya masih membawa pengaruh yang besar sampai hari ini, sehingga memberi warna kultural yang khas saat berinteraksi secara luas dalam hubungan sosialnya. Seperti halnya para pengrajin Noken Papua yang lebih sering berkumpul karena persamaan asal usul kampung asalnya.

SHARE