Sistem Pengetahuan Budaya Masyarakat Lokal Papua (Liputan Dana Indonesiana 2023)
Papua (baik itu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau Papua New Guinea) merupakan pulau terbesar kedua didunia setelah Greenland Kanada, dengan penduduk termasuk rumpun Melanesia yang memiliki ciri-ciri khas seperti berkulit hitam, berambut keriting dan berombak, memiliki badan kekar dan tinggi.Dalam analisis kebudayaannya, melalui sentuhan dengan dunia luar, terutama terjadinya perkawinan silang, telah menghasilkan keturunan yang memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda dengan penduduk asli.Kenyataan itu tampak jelas pada penduduk yang hidupnya didaerah pesisir atau pantai.
Secara garis besar, Papua terbagi menjadi tujuh (7) wilayah budaya, yaitu: wilayah budaya Mamta, Seireri, La Pago, Mi Pago, Anim Ha yang terletak di provinsi Papua, sedangkan wilayah budaya Bomberei dan Domberei terletak di provinsi Papua Barat. Penduduk Papua terdiri atas berbagai kelompok etnik, hidup berkelompok dalam unit-unit kecil, memiliki adat- istiadat, budaya , dan bahasa tersendiri. Letak geografis, kekayaan alam, biodiversity, serta keragaman seni budayanya menyebabkan Papua memiliki identitas serta keunikan tersendiri sebagai objek pariwisata di Indonesia.
Seiring perkembangan jaman, kini Papua dihuni oleh penduduk pendatang dari wilayah nusantara lainnya dari luar Papua sehingga kenyataan ini telah memberi warna tersendiri bagi Papua.Salah satu contohnya adalah eksistensi etnik Bali di Papua. Berdasarkan informasi dari Ketua Parisadha Hindu Dharma Provinsi Papua dan Kota Jayapura, Komang Alit Wardhana dan Ida Bagus Suta Kertya, saat ini tercatat ada sekitar 6300 orang Bali yang ada di Papua. Mereka bekerja sebagai petani, pegawai negeri, TNI-Polri, dan profesi lain. Jumlah orang Bali paling banyak terdapat di Kabupaten Keerom, provinsi Papua. Mereka adalah transmigran Bali yang dominan berasal dari Kabupaten Karangasem. Banyaknya orang Bali di Papua tampak secara tidak langsung berdampak terhadap banyak pura di daerah tersebut.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua. Pasal 1 (a) disebutkan bahwa Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya yang diberi Otonomi Khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia;(b) Otonomi Khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua;Secara administratif wilayah Papua telah dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Papua dan Papua Barat. Kawasan Papua Barat adalah suatutempat yang tak kalah menarik dengan beragam keindahan; lereng-lereng gunung yang curam dan hutan-hutan lebat dengan satwa yang unik di dunia. Banyak tempat yang belum dapat dijamah dan dimasuki oleh dunia luar, peradaban jaman batu juga masih dapat ditemukan di sini.
Masyarakat penduduk Papua Barat berasal dari suku bangsa asli Papua, yang terdiri atas beberapa suku bangsa. Berdasarkan hasil sensus penduduk BPS tahun 2000, proporsi suku asli Papua mencapai sekitar 83% dari total 700.000 penduduknya. Sementara suku bangsa pendatang seperti Jawa, Bugis, Madura dan Batak mencapai 17%. Apabila dibandingkan dengan propinsi Papua, Proporsi etnis pendatang di Papua Barat lebih besar . presentasi etnis pendatang diwilayah Papua hanya mencapai12%.Keterbukaan di wilayah Papua Barat secara kultural dengan wilayah lain sudah terjadi sejak abad ke-7 melalui pedagang Persia dan India dan pada abad ke 9 dengan Cina. Pengaruh Islam masuk setelah Papua menjadi kekuasaan politik Kesultanan Tidore pada abad ke-15 masehi. Semula pengaruh kesultanan tersebut hanya berkisar di sekitar kepulaunRaja Ampat, tapi lambat laun masuk ke wilayah Pantai Barat pesisir utara Papua.Sejaman dengan itu bangsa Barat mulaimenyentuh tanah Papua melalui Antonio d’Abrau, ekspedisi barat ini turut memulai penyebaran agama Kristen di Papua.
Secara umum bisa dikatakan perbedaan karakter budaya pesisir dan pedalaman memang sangat kental di wilayah ini. Penduduk yang mendiami kawasan pesisir cenderung lebih bersifat terbuka karena lebih banyak berhubungan dengan dunia luar. Banyaknya pendatang dari berbegai etnis dan agama mempengaruhi daerah ini.Berbeda halnya dengan masyarat pedalaman yang mendiami dataran rendah dan lereng pegunungan di Sorong Manokwari, adat istiadatdi wilayah ini dijalankan secara ketat. Curiga terhadap orang asing yang belum dikenal merupakan hal yang lumrah, pembalasan dendam melalui perang suku dinilai sebagai tindakan heroisme yang bertujuan mencari keseimbangan social.Adanya fenomena dinamis masyarakat Papua yang ingin terus mengembangkan diridan berubah merupakan bagian dari kultur Papua yang kental rasa kesukuannya. Sayangnya keinginan ini berubah dan mengembangkan diri ini berkembang menjadi tidak terkendali (Kompas tanggal 4 Maret 2009).
Papua merupakan salah satu daerah konflik separasi, atau pemisahan diri di Indonesia, seperti Aceh di masa lalu. Namun, tak seperti di Aceh, konflik separasi disini memiliki karakteristik dan dinamikanya tersendiri. Keberhasilan perdamaian di Aceh menggoda dan mendorong kita untuk meneruskannya di Papua. Tetapi, keberhasilan di Aceh tidak mudah begitu saja kita terapkan di Papua, karena perbedaan karakteristik dan dinamika konfliknya, meskipun berbagai peluang perdamaian tetap ada.Konflik separasi di Papua telah berlangsung cukup lama, sejak Papua pertama kali bergabung secara resmi menjadi bagian dari Indonesia, tahun 1969.
Terdapat kelompok-kelompok dan sejumlah tokoh masyarakat di Papua tidak mau bergabung, menginginkan Papua berdiri sebagai negara sendiri. Sebagian besar kelompok dan tokoh itu bergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang hingga kini masih eksis dan terus berjuang, bahkan dengan kekerasan senjata dalam memperjuangkannya. Secara resmi Papua memang bagian Indonesia, dan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) telah mengakuinya dalam penggabungan pada 1969. Pemerintah Indonesia sejak masa ini hingga sekarang memang serius memberikan berbagai pembangunan ekonomi, politik, sosial, keamanan, dan kebudayaan disana, sebagaimana dilakukan di daerah-daerah lainnya. Hanya saja, respon, dinamika dan keberhasilannya sangat berbeda dengan daerah- daerah lain, salah satu sebab utamanya karena masih adanya resistensi dan konflik separasi disana. Konflik separasi di Papua, dengan OPM sebagai motor penggerak utama, tetapi masih terus berlangsung hingga sekarang, meski belum sepenuhnya berjalan stabil tapi penanganan perdamaian khusus dari pemerintah Indonesia terus menerus dilaksanakan.
(Foto : Dokumentasi Riset Forum Budaya Muda Papua, 2024)
