Relasi Kekuatan Ekologis Budaya Papua

Relasi Kekuatan Ekologis Budaya Papua
Suku-suku bangsa yang disebut sebagai orang asli Papua yang mendiami Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) berjumlah ratusan suku bangsa. Kelompok mereka ini memiliki karakteristik sosial budaya yang berbeda satu sama lainnya, karena dipengaruhi oleh kondisi alam (zona ekologis) yang terdapat di Tanah Papua.  Masyarakat lokal Papua ini sepenuhnya mendiami zona-zona ekologis yang ada sehingga krakteristik budayanya dipengaruhi pula dengan zona-zona ekologis itu. Sehubungan dengan itu, pembangunan fisik maupun social budaya orang asli Papua di tanah Papua seharusnya disesuai-kan dengan nilai budaya, hukum adat, norma dan aturan- aturan budaya orang Papua yang tinggal pada zona-zona ekologis yang ada agar rencana- rencana pembang-unan tersebut dapat didukung dengan potensi alam dan kondisi sosial – budaya masyarakat asli Papua.

            Kajian ilmiah dari Boelaars (1983), Petocz (1987), dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh "Lavalin Internasional Incorporate “ di Papua (1987) dan Tukher (1988) menyebutkan jika evolusi kebudayaan di Papua sangat dipengaruhi oleh  keberadaan zona ekologis ini. Seperti yang dijelaskan diawal, umumnya zona – zona Papua menjadi penentu penting dalam evolusi kebudayaan Papua. Seperti halnya zona rawa, pantai dan sepanjang aliran sungai, zona dataran tinggi, zona lembah kecil, zona dataran rendah dan pesisir.

            Zona rawa, pantai dan sepanjang aliran sungai Papua umumnya dihuni oleh Suku Asmat, suku Jagai, suku Marind-Anim, suku Kamoro, suku sebyar, suku Simuri, suku Irarutu, suku Waropen dan suku Bauzi.  Sementara pada zona dataran tinggi, suku – suku bangsa yang mendiami zona ekologis ini berasal dari suku Lani, Ngalum, suku Mee, suku Nduga, suku Amungme, suku Moni, suku  Yali dan suku Hubula.

            Untuk zona kaki gunung dan lembah kecil ada suku-suku bangsa yang mendiami zona ini adalah suku Sentani, Nimboran, Meybrat, suku Attam dan orang Muyu,  Pada zona dataran rendah dan pesisir ada suku – suku bangsa yang mendiami zona ini adalah suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Sorong sampai Nabire, Biak dan Yapen. Kondisi alam ini mempengaruhi semua unsur-unsur budaya kelompok-kelompok etnis / suku bangsa yang mendiami 4 zona ini, seperti halnya sistem peralatan atau teknologi tradisional, sistem religi, organisasi sosial sistem pengetahuan, dan kesenian (arsiktertur tradisionan, musik, tari, seni ukir dan lukis). Sampai hari ini nilai – nilai ilmu pengetahuan budaya ini masih eksis dan tetap dilestarikan oleh banyak masyarakat Papua bahkan juga pada wilayah kota- kota besar yang ada di Papua seperti Jayapura, Sorong, Biak dan Monokwari.

            Dalam perkembangan sejarah, karakteristik dan citra dari masyarakat Papua selalu dekat dengan narasi tradisional kuno yang seakan menempatkan masyarakat Papua hidup dan perkembangan kemunduran. Padahal dalam perjalanan sejarah kebudayaannya, ada perubahan yang sangat besar dari usaha membawa masyarakat Papua untuk dapat hidup pada kehidupan yang modern. Jika membaca analisis Rosmaida Sinaga, dalam tulisannya Masa Kuasa Belanda di Papua, (Depok: Komunitas Bambu, 2013) disana dijelaskan tentang  perkembangan masyarakat Papua pada era kolonial Belanda yang mengalami pemaknaan tersendiri dimana kekuasaan pemerintah kolonial Belanda pada periode 1898 hingga 1962 telah memberi dampak yang penting bagi motivasi penegakan kekuasaan dan ekspansi kolonial Belanda di Nederlands Nieuw Guinea (NNG). Studi ini menemukan fakta sejarah jika pembagian wilayah (pemekaran wilayah) pemerintahan kolonial Belanda di NNG diawali dengan kegiatan penjajakan wilayah untuk menetapkan pos pemerintahan dan batas wilayah. Adanya pembagian wilayah pemerintahan itu didasarkan pada pertimbangan geografis/akses transportasi, budaya, nilai ekonomis dan politis suatu wilayah yang akan dimekarkan. Dari sini ada peran strategis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda utamanya dalam membangun relasi sosial budaya yang sesuai dengan adat dan zona ekologis dari masyarakat Papua.

Dokumentasi Foto : Kampung di Lembah Baliem, Dutch New Guinea  Tahun 1944. (Sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Foto Nigis New Guinea Nomor 859)

SHARE