Perkampungan Merauke Aktualisasi Interaksi Budaya Masa Lalu

Perkampungan Merauke Aktualisasi Interaksi Budaya Masa Lalu
            Perkampungan Merauke  Papua menjadi contoh bagaimana ruang interaksi dari wilayah politik  Papua menjadi titik episentrum dari kelompok pendatang di Papua dalam berinteraksi. Utamanya pada masa Hindia Belanda. Dari kawasan ini, banyak orang  Eropa dan Cina yang mulai aktif dalam menyerbu wilayah hutan pada bagian selatan Nugini, Mereka memburu burung untuk kebutuhan konsumsi sehari – hari. Saat pemerintah Belanda mulai membatasi adanya perburuan burung liar dikawasan iini. Orang – orang Eropa banyak yang kembali ke Merauke untuk menghabiskan uang yang mereka dapatkan. Hal ini yang menyebabkan mengapa di kemudian hari populasi penduduk di Merauke tidak banyak, ini dikarenakan Merauke adalah kota untuk para pendatang (orang asing). Namun sekarang, banyak penduduk asli Papua yang mulai menetap di Merauke.

            Dari sejarah, diketahui merauke ditemukan pada 12 Februari 1902. Tanggal 12 Februari 1902, kapal uap Belanda van Goens masuk Sungai Maro dan berlabuh di Ermasu. Kapal ini membawa Asisten Residen Ambon, van Kroessen. Sebelumnya kapal uap van Swoll dan Nias sudah terlebih dahulu merapat di sungai Maro. Tanggal 13 Februari 1902, pos pemerintahan mulai dibangun dan pada tanggal 14 Februari 1902, bendera Belanda dikibarkan di pos tersebut. Pada waktu pertama datang inilah orang-orang Belanda bertanya kepada orang Marind Anim, "Apakah nama tempat ini?" Orang Marind Anim mengira para pendatang menanyakan nama sungai besar itu. Salah satu di antara mereka menjawab, "Maro-ke", artinya "Ini Sungai Maro". Si orang Belanda, mengira tempat itu bernama Maro-ke, yang kemudian dilafalkan menjadi Meroke, lalu Merauke.

            Secara genesis, nama "Merauke" sebenarnya berasal dari sebuah salah paham yang dilakukan oleh para pendatang pertama. Ketika para pendatang menanyakan kepada penduduk asli apa nama perkampungan, mereka menjawab " Maro-ke" yang sebenarnya berarti "itu sungai Maro". Orang Marind berpikir bahwa sungai maro(yang lebarnya 500m) lebih penting dari nama area tempat sebuah hutan yaitu Gandin. Penduduk asli papua sendiri menyebut area tempat kampung tersebut terletak dengan mana " Ermasoek".

            Orang yang pertama menetap di sana adalah pegawai pemerintah belanda. Mereka mencoba untuk hidup diantara dua suku asli yaitu Marind Anim dan Sohoers. Mereka berjuang keras melawan keganasan alam (termasuk dalam hal pemburu kepala). Lama kelamaan tempat ini mengalami ruang pertumbuhan yang cepat sehingga menjadi sebuah "kota". Pada wilayah ini, para Wanita Eropa banyak yang suka memakai hiasan bulu dari burung dari khayangan "Cendrawasih" di topi mereka. Kampung Merauke Papua dalam beberapa decade kemudian menjaid kawasan yang memberi percontohan kemodernan bagi masyarakat lokal Papua. Pada 1940 an, kawasan ini sudah mengenal pembuatan topi bulu burung yang sangat digemari oleh para pegawai Belanda, tak jarang aksesoris dari kerajinan lokal masyarakat dibawa ke Eropa. Realitas ini menunjukkan jika dibeberapa titik kawasan perkampungan lokal Papua cukup akomodatif dalam modernitas kebutuhan  hidup masyarakat.

Dokumentasi Foto : Perumahan di perkampungan Merauke di Pantai Barat Daya Nederlands New Guinea. (Sumber :  Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI), Foto Nigis New Guinea Nomor. 897)

    

SHARE