Menata Pembangunan Papua Berkelanjutan - Liputan Dana Indonesiana 2023
Sudut pandang pembangunan antropologi dalam dalam pembangunan Papua menekankan pentingnya memahami masyarakat lokal mendalam sebelum merumuskan dan menerapkan kebijakan. Pendekatan model ini menitikberatkan pada pengetahuan tentang dinamika sosial, kepercayaan, adat istiadat, serta praktik sehari-hari masyarakat setempat. Seperti, bagi suku Amungme, tanah bukan hanya aset ekonomi tetapi juga memiliki makna spiritual dan identitas budaya yang mendalam. Karena itu, pembangunan yang melibatkan penggunaan atau pengalihan tanah harus dilakukan dengan memahami dan menghormati makna budaya yang melekat padanya
. Salahsatu masalah pembangunan di Papua pada era Republik Indonesia adalah pembangunan besar di Papua adalah pembangunan jalan trans-Papua yang awalnya dikenal trans Irian Jaya yang telah dimulai sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto pada program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Rapelita I) tahun 1974. Proyek perintis ini bertujuan untuk membuka aksesbilitas wilayah, khususnya jalur Jayapura dan Wamena yang kemudian dikembangkan kembali selama era Presiden Joko Widodo pada 2014 untuk menghubungkan Sorong hingga Merauke sepanjang 4.330 Km. Pembangunan ini bertujuan untuk membuka aksesibilitas dan meningkatkan konektivitas antarwilayah. Namun, proyek ini dianggap menghadapi banyak tantangan. Di satu sisi, jalan ini diharapkan dapat membuka isolasi wilayah pedalaman, mengurangi biaya transportasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, tak dapat dipungkiri jika adanya pembukaan jalan ini juga mengancam merusak hutan hujan yang kaya keanekaragaman hayati dan mengganggu habitat asli, serta dapat mempengaruhi cara hidup tradisional masyarakat adat yang bergantung pada hutan.
Langkah – langkah rasional untuk menata pembangunan Papua yang berkelanjutan dan mampu diterima oleh masyarakat lokal,harus dapat mengintegrasikan semua perspektif budaya dalam setiap tahap pembangunan. Beberapa pendekatan inklusif antara lain dengan intens dalam melakukan dialog dengan komunitas lokal akan memberi dasar kebijakan yang lebih baik. Upaya strategis untuk dapat melakukan pemberdayaan Masyarakat Lokal dalam meningkatkan kapasitas dan juga keterampilan masyarakat lokal melalui pelatihan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan mereka. Misalnya, dalam program-program pelatihan pertanian berkelanjutan yang sesuai kondisi lokal idealnya dapat membantu masyarakat untuk memanfaatkan potensi alam tanpa merusak lingkungan.
(Dokumentasi Foto : Pasar Hamadi Jayapura Tahun 2024, Forum Budaya Muda Papua, 2024)
