Memahami Papua dari Sudut Pandang Etnografi Geografis (Liputan Dana Indonesiana 2023)

Memahami Papua dari Sudut Pandang Etnografi Geografis (Liputan Dana Indonesiana 2023)

Masyarakat tradisonal Papua sepenuhnya belum bisa melepaskan pola hidup nenek moyang mereka. Sejak  beradab – abad sebagian dari mereka masih menjalani pola hidup berburu, meramu dan berladang berpindah. Kentanya akar budaya subsistem membuat masyarakat Papua sulit mengadopsi model ekonomi pasar. Secara tradisional, tipe pemukiman masyarakat Papua dapat dibagi ke dalam empat kelompok dimana setiap tipe mempunyai corak kehidupan sosial ekonomi dan budaya tersendiri.

Pertama, penduduk pesisir pantai;Penduduk ini mata pencaharian utama sebagai Nelayan disamping berkebun dan meramu sagu yang disesuaikan dengan lingkungan pemukiman itu. Komunikasi dengan kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.

Kedua, penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah;Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu dihuta disekeliling lingkungannya. Mereka senang mengembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering dan ada yang mendiami rawa dan payau serta sepanjang aliran sungai. Adat istiadat mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru.

Ketiga, penduduk pegunungan yang mendiami lembah;Mereka bercocok tanam, dan memelihara babi sebagai ternak utama, kadang kala mereka berburu dan memetik hasil dari hutan. Pola pemukimannya tetapsecara berkelompok, dengan penampilan yang ramah bila dibandingkan dengan penduduk tipe kedua (2). Adat istiadat dijalankan secara ketat dengan ”Pesta Babi” sebagai simbolnya. Ketat dalam memegang dan menepati janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui ”Perang Suku” yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat curiga tehadap orang asing ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).

Keempat, penduduk pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung; Melihat kepada tempat pemukimannya yang tetap di lereng-lereng gunung, memberi kesan bahwa mereka ini menempati tempat yang strategis terhadap jangkauan musuh dimana sedini mungkin selalu mendeteksi setiap makhluk hidup yang mendekati pemukimannya. Adat istiadat mereka sangat ketat, sebagian masih ”kanibal” hingga kini, dan bunuh diri merupakan tindakan terpuji bila melanggar adat karena akan menghindarkan bencana dari seluruh kelompok masyarakatnya. Perang suku merupakan aktivitas untuk pencari keseimbangan sosial, dan curiga pada orang asing cukup tinggi juga.Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat Papua satu diantaranya adalah dengan melakukan transmigrasi (Ekspedisi Papua 2009:262).

(Dokumentasi Foto : Pemandangan Laut Sentani Jayapura Papua. (Sumber : Dokumentasi : Forum Budaya Muda Papua, 2024)

SHARE