Eksistensi Orang Asli Papua : Pertautan Realitas Etnografis (Liputan Dana Indonesiana 2023)

Eksistensi Orang Asli Papua : Pertautan Realitas Etnografis (Liputan Dana Indonesiana 2023)
Orang Papua, yang sekarang kita kenal terdiri dari 254 suku bangsa asli yang mendiami di pulau paling timur dari kawasan Nusantara. Dalam historisnya, pulau ini telah mengalami beberapa kali penamaan berdasarkan perkembangan sejarah. Orang Belanda bahkan menyebut pulau Papua dahulu yaitu Niew- Guinea oleh seorang pelaut Spanyol, Ynigo Ortiz de Retes (1545) yang menyebut “Neuva Guinea” (Guinea Baru). Penduduk Irian (Papua) yang berkulit hitam mengingatkan-nya kepada penduduk pantai Guinea di benua Afrika (Naber, 1915). Sebutan lain juga adalah “Papua” yang mula-mula dipakai oleh pelaut Portugis Antonio d’ Arbreu yang mengunjungi pantai Papua pada 1551. Nama itu sebelumnya dipakai oleh Antonio Pigafetta pada waktu berada di laut Maluku pada tahun 1521. Kata “Papua” berasal dari kata Melayu “Pua-pua” yang berarti “keriting” (Stirling, 1943: 4, dalam Koentjaraningrat, 1993).

 Dalam konferensi Malino 1964 penggunaan nama “Iryan” diusulkan oleh F. Kaisepo. Kata itu berasal dari bahasa Biak yang artinya “Sinar matahari yang menghalau kabut di laut”, sehingga ada “harapan bagi para nelayan Biak untuk mencapai tanah daratan Irian” . Pengertian lain dari kata ini juga pada orang Biak, bahwa Irian itu berasal dari dua kata yaitu “Iri” dan “ryan”. Iri berarti “dia” (Dia dimaksut disini adalah Tanah) dan ryan berarti “panas”. Secara sederhana makna yang terkandung dalam pengertian kata Irian adalah “tanah yang panas”.

 Masyarakat Marindnim di pantai selatan Papua menyatakan kata Irian berarti “tanah air” (Koentjaraningrat, 1993: 3-4). Dalam penalaran lebih jauh, ciri dan Identitas Orang Papua tidak pernah diteliti oleh para ahli mengenai ciri-ciri ras. Hanya beberapa orang dokter dan ahli antropologi ragawi bahkan telah melakukan pengukuran tinggi badan dan indeks ukuran tengkorak pada beberapa individu dibeberapa tempat yang terpencar. Bahan-bahan itu belum cukup untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang ciri-ciri fisik orang Papua. Menurut H.J.T. Bijlmer (1923), Koentjaraningrat, 1993).

Dalam kajian antropologis, ada kecenderungan orang Papua makin jauh dari pantai makin pendek tubuhnya, demikian bentuk tengkorak penduduk pantai umum- nya lonjong dan makin kearah pedalaman bentuknya menjadi sedang. Indeks ukuran bagian-bagian muka pada beberapa penduduk pantai ada yang lebar, namun tidak jarang pula ada orang pantai yang panjang bentuk mukanya, dan daerah pedalaman keadaannyapun sama (Bijlmer, 1956, Koentjaraningrat, 1993).

Seorang ahli Belanda J.P. Kleiweg de Zwaam menjelaskan jika ras Papua atau ras Irian itu tidak ada (1956:431, Koentjaraningrat, 1993). Kontekstual ini kiranya memang didukung oleh watak dan karakteristik ras khusus dari penduduk Papua yang unik. Kebinekaan ciri-ciri ras pada berbagai penduduk asli Papua lebih jelas terlihat melalui ciri-ciri ras fenotip mereka, yaitu warna dan bentuk rambut, walaupun dalam hal ini tidak ada keseragaman. Warna rambut orang Papua hampir semuanya hitam tetapi tidak semuanya keriting. Penduduk yang tinggal di sepanjang aliran sungai Mamberamo, rambutnya banyak yang berombak dan bahkan ada pula lurus (Moszkowski, 1911), sedang ada pula yang lurus dan kejur (Neuhauss, 1911: 280, Koentjaraningrat, 1993). Secara khas kajian ini memang harus dikaji kembali, tapi secara eksplisit sebenarnya menunjukkan jika ciri khas ini menunjukkan beragamnya suku - suku yang ada di Papua.

Dokumentasi Foto  : Penjual Pasar Hamadi Jayapura yang sedang menunggu Pembeli. Sumber : Dokumentasi Forum Budaya Muda Papua, 2024)

SHARE